Rough Year of College

When life try to gets you down, just keep swimming… just keep swimming…

Seperti halnya mendaki gunung (meski aku belum pernah, sih ya hehehe), hidup juga mempertemukanku dengan jalan raya, jalan setapak, jalan meliuk, jalan mendaki terjal, jalan mendaki sedang, dan semua bentuk jalan yang bisa membuatku berpikir untuk berhenti dan kembali pulang serta jalan yang hanya bisa kulewati dengan menumpang kendaraan orang lain. Dalam perjalanan ini aku dipertemukan dengan orang-orang yang menjadi lentera, orang-orang penunjuk jalan, orang-orang yang mencegahku mendaki lebih tinggi, dan orang-orang yang memaksaku mendaki saat aku sesak napas. Tapi aku senang, setidaknya perjalananku tidak sepi, riuh rendah, tapi selalu ada saja yang menemani. Saat aku bahagia ada yang ikut bersorak bersamaku, saat sedih ada juga yang ikut menemaniku tersedu-sedu. Ada orang-orang yang sama ada orang-orang musiman. Di umur yang hampir 22 tahun ini, pelajaran berhargaku adalah aku, kamu, mereka bisa saja jadi orang musiman bagi orang lain, jadi jangan merasa telah berkorban lebih untuk orang lain.

Biar kuceritakan sedikit bagaimana kehidupan kuliahku sampai ke tahun akhir ini.

Babak Satu: Mahasiswa Baru, Naive, Sombong

Sebagai anak gadis tertua dan satu-satunya aku selalu menanggung beban untuk menjadi yang terbaik, menjadi teladan, dan selalu tampak kuat. Tidak ada yang memintaku, namun, secara alami saja aku merasa harus memikul semua itu karena aku anak perempuan tertua, satu-satunya. Aku tak ingin dipandang lemah karena aku perempuan juga tak ingin adikku tak memiliki contoh yang baik. Hidup dalam keluarga keras khas pedagang daging yang juga menjagal sapi sendiri, aku paham betul banyak hal yang perempuan tak bisa sandingkan dengan kemampuan laki-laki terutama tenaga. Aku akui. Sikap para lelaki di lingkungan kerja ayahku yang kadang menganggap remeh perempuan sering kali memancing rasa penasaranku, kenapa mereka begitu memandang rendah perempuan. Hal ini juga yang membuatku rendah diri sebagai perempuan, namu makin dewasa aku makin menyadari, perempuan dan laki-laki itu hanya label. Harusnya kami punya kesempatan yang sama dan hak yang sama. Biarlah kami bersaing dengan adil baru tentukan siapa yang layak melakukan apa. Jangan potong putus tali harapan kami begitu saja. Ah, mengenai gender ini akan aku cetitakan kegelisahanku di lain kesempatan.

Kembali ke topik utama, sebagai anak perempuan pertama, aku adalah pengalaman pertama Ayah dan Mama mengurus berkas perkuliahan anak mereka. Mereka begitu antusias, jika aku mengusahakan pendidikanku 100% maka orang tua-ku mengusahakannya 500%. Tak pernah air mataku keluar hanya untuk kompetisi dalam hidupku, sering kali aku merasa “Ah, aku telah berusaha, apapun hasilnya, terserah saja.” Tapi perkuliahan adalah hal berbeda. Melawan ratusan ribu siswa SMA aku harus unggul dan masuk ke jurusan yang aku mau. Jika tidak, tahun itu aku tidak akan duduk di bangku kuliah. Aku tidak mau. Aku tidak mau dipandang gagal oleh adik-adikku. Jika aku adalah kegagalan, maka aku dapat menularkan kegalalanku pada adik-adikku. Tekanan ini tak pernah sekalipun aku ceritakan pada siapapun pada saat itu. Aku hanya akan menangis dalam shalat, atau saat ayah mengantarku tes—aku takut gagal padahal ayah telah bersusah payah mengantarku kemanapun aku mau. Long story short, aku berhasil diterima di Teknik Industri UNAND. Aku sudah membayangkan seperti apa kehidupan kuliah di teknik. Aku mencari tahu segalanya, tulisan blog artikel dan segala hal yang menceritakan tentang kehidupan dunia teknik secara umum. Ya begitulah aku, jika aku harus menapaki tanah baru, setidaknya aku harus tau lahan mana yang setidaknya harus aku hindari.

Begitu urusan administrasi selesai, resmi. Aku mahasiswa tahun satu teknik UNAND. Aku adalah salah satu dari sekian penerima beasiswa Bidikmisi jadi kehidupan tahun pertamaku dihabiskan di asrama mahasiswa. Tidak ada yang spesial, hanya saja aku tidak bisa bebas sesuka hati. Aku hidup perdampingan dengan tiga orang teman sekamar yang berasal dari fakultas yang berbeda, pola pikir berbeda, dan nada bicara berbeda. Mereka baik dan pengertian. Tidak banyak drama di tahun pertama. Ah, ada.

Pernah pada satu kesempatan aku telah selesai mengerjakan tugas besar mata kuliah gambar teknik. Tugas aku kerjakan sendiri, tanpa ada bantuan teman-temanku, ya karena aku tidak di basecamp. Kenapa? Karena di teknik perempuan adalah ratu jika kamu kaya atau jika kamu good looking, atau dari daerah yang sama, HAHA. Ini hanya pandanganku sebagai orang yang selalu dioper sana-sini saat harus pulang malam setelah ngumpul, ya. Perasaaan pesimistis akan dibantu inilah yang membuatku sangat enggan pergi ke basecamp “memangnya ada gitu yang mau nolongin aku?” begitulah kita-kira pikiranku saat itu. Ditambah lagi pada semester itu ada kelas A supremacy. HAHAHA ini pure lucu. Mereka satu-satunya kelas yang menjalani tutorial penuh software desain. Mungkin karena bangga dengan kesempatan yang mereka punya jadi saat itu kami yang belum kenal semua orang dan ke basecamp kalau bukan anak kelas A ya jadi kacang. Kelas lain juga iri kok sama mereka, siapa sih yang mau jadi orang bego dan harus belajar otodidak semua tools software yang bahkan belum pernah dengar namanya.

Menyelesaikan tugas itu sendiri, belajar tools-nya lewat youtube dan sesekali aku diskusikan dengan teman sekelasku yang ada di asrama juga. Jujur, lelah. Tapi aku menikmati prosesnya. Hari itu aku tidak mau pergi shalat subuh ke mesjid. Sialnya, hari itu ada pemeriksaan mendadak, mungkin karena makin ke akhir masa asrama makin sedikit yang shalat di mesjid. Ada yang tidak sempat karena tugas, ada yang memang malas saja harus ke mesjid dan memilih shalat di kamar masing-masing. Hari itu kamarku kena sidak, tertangkap basah karena pintu kamar tidak kami kunci. Jadilah orang-orang yang tidak shalat di mesjid ini jadi tontonan. Ada lebih dari 50 orang jika digabungkan dengan asrama cowok dan kami menjujung kursi sebanyak tiga keliling saat orang-orang baru kembali dari mesjid. Malu, sih, tapi karena aku dihukum bersama teman kamar tidak masalah. Malah jadi lucu. Hahaha.

Di tahun pertama ini aku menemukan teman-teman yang menyenangkan. Ada pergantian personil di awal tahun kedua. Tapi malah membuat tahun 2 jadi seru. Teman-teman tahun pertama ku ada yang girly, lemot, dan yang super tegas. Kami bertiga punya pola pikir berbeda. Kadang terjadi pertengkaran. Orang yang ditakdirkan denganmu akan bertahan setelah berbagai badai menghadang. Dan boom! Diakhir tahun pertama, satu temanku meninggalkan group pertemanan ini. Putus pertemanan denganku, tapi tidak dengan yang lainnya. Di sini aku masih merasa orang lain yang salah. Bukan aku. Dan begitulah sikapku di tahun pertama, keras kepada, merasa paling benar, punya banyak teman di luar lingkaran pertemanan, tapi tidak suka ditindas dengan supremacy orang lain. HAHAHAHA alias sombong tapi sok baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s